Diskusi Literasi : Ciptakan “Engagement Literacy”

IMG_1882

Sanggar cantrik sebagai penyedia ruang bertumbuh seutuhnya bagi anak terus berusaha mendekatkan anak-anak sanggar dengan buku. Kendala yang dihadapi dalam mengerjakan hal ini adalah kurangnya fasilitas yang dimiliki oleh Sanggar Cantrik, kurangnya minat baca pada anak maupun kurangnya pemahaman anak terhadap bacaan. Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannyd diskusi literasi dengan menghadirkan Ibu Wresti Wredingsih, S.Psi sebagai narasumber pada 10 Juni 2013 lalu. Beliau yang biasa disapa Ibu Wresti ini, mengabdikan dirinya sebagai Kepala Sekolah SD Tumbuh. Menurut Ibu Wresti, menumbuhkan minat baca pada anak bukanlah hal yang instan. Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi habbit membaca pada anak. Penciptaan lingkungan fisik yang mendukung terhadap literasi menjadi stimulus yang baik dalam peningkatan literasi pada anak. Proses anak membaca dimulai dari tahap mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Seringkali step linguistic di beberapa sekolah tidak sesuai dengan tahapan sehingga anak menjadi tidak suka membaca karena mereka belum siap.

SD Tumbuh menjadikan literasi bukan sebagai paksaan, namun menjadikannya peluang untuk melakukan reading readiness. Selain itu anak diberikan kesempatan untuk belajar sesuai dengan level kemampuan membacanya. SD Tumbuh juga membiasakan kebiasaan morning carpet yakni aktivitas 30 menit sebelum pembelajaran salah satunya adalah membaca maupun mendongeng. Membaca menjadi hal yang sangat penting karena sangat mempengaruhi pola berbicara dan menulis pada seseorang. Penciptaan engagement pada kegiatan literasi anak menjadi hal yang sangat penting.

Dalam diskusi yang menarik tersebut, juga dilakukan diskusi antara Sanggar Cantrik dan Ibu Wresti. Salah satu hal yang ditanyakan oleh Sanggar Cantrik adalah mengenaii bagaimana Ibu Wresti mendorong para guru untuk bersedia mendongeng pada anak-anak. Ibu Wresti mengatakan bahwa penenmpatan guru sesuai dengan kapasitasnya dapat menajdi faktor paling kuat untuk membuat guru-guru tersebut mau melakukan story telling. Selain itu, pertanyaan menarik muncul dari Mbak Icha tentang cara SD Tumbuh mempersiapkan anak untuk mau mendengar. Ibu Wresti meresponi pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa mendengar adalah skil basic sehingga ditanamkan sejak kecil. Ketika meminta mereka mendengar harus disesuaikan dengan waktu dan porsi anak-anak. Perlu diperhatikan (aware) bahasa tubuh mereka.

“Literasi dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan, yakni engagement. Supaya anak tertarik dalam program tersebut misal memperhatikan variasi buku maupun tulisan, hal ini bisa dibantu dengan story telling.” Pesan Bu Wresti tersebut menutup diksusi literasi sore itu.