Ibukota Kecamatan Karangan yang Penuh Kenangan

klamntanSanggar Cantrik berharap bisa memberikan ruang bertumbuh seutuhnya tidak hanya bagi anak-anak di daerah DIY-Jateng namun untuk anak-anak Indonesia di tempat lain. Kalimantan menjadi fokus berikutnya untuk Sanggar Cantrik menumbuhkan ruang belajar yang mencerahkan dan menyenangkan bagi anak. Pelayanan Sanggar Cantrik ada di beberapa propinsi di Kalimantan seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Barat metode pendidikan karakter diterapkan melalui kegiatan belajar mengajar pelajaran di kelas. Dalam suasana kemerdekaan RI ke 68 mari melihat anak-anak Indonesia lebih dekat lagi melalui pengalaman salah satu fasilitator Sanggar Cantrik bernama Rudhita Adhy Saman yang mengajar di Sibawek, Karangan, Kalimantan Barat.

Rudhita Adhy Saman bersama anak-anak

Tanggal 15 Januari 2013 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di kota Pontianak Kalimantan Barat yang dilanjutkan dengan perjalanan menuju Dusun Sibawek Desa Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak, dengan waktu tempuh 3 jam berjarak sekitar 115 km. Perjalanan terasa beda dengan di Pulau Jawa terutama di Jogja karena sepanjang kanan kiri jalan terlihat pohon sawit dan karet. Hari berikutnya langsung beranjak ke Dinas Pendidikan Kabupaten untuk mengurus surat rekomendasi. Setelah mendapat surat rekomendasi saya mengunjungi sekolah dasar yang akan menjadi tempat berdinamika yaitu SDN 07 Raba, SDN Tanjam, SDN 02 Dano.  Jarak yang terjauh dari mess  adalah SDN Dano. Perjalanan ke SDN Dano harus melewati jalan berbatu dengan jarak 9 km dengan menggunakan sepeda motor dicampur goyangan stang karena jalan yang berbatu. Banyak anak-anak yang masih menggunakan bahasa dayak ahe (kanayant), saya sempat merasa bingung ketika ada anak kelas 1 yang saya maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika. Ketika itu saya menginstruksikan kepada 3 anak begini : “kamu maju nomer satu , nomer dua dan nomer tiga!” Kemudian anak-anak itu menjawab  “baik”. Saya sempat berpikir bahwa anak-anak tersebut rajin dan berani untuk mengerjakan soal, tetapi ketika ditunggu beberapa saat tidak ada satupun yang maju untuk mengerjakan soal.  Setelah itu saya bertanya arti “baik” adalah “tidak mau”. Beberapa waktu setelah itu ada beberapa anak mengucapkan kata “kameha” dengan muka sedikit menahan sesuatu, ternyata “kameha” artinya “kebelet pipis”. Ternyata penguasaan bahasa lokal sangat di butuhkan untuk memperlancar komunikasi, saya bersyukur dibantu oleh anak-anak di kelas untuk sedikit-sedikit belajar bahasa daerah sana.

Anak-anak sedang bermain di mess (kontrakan) Sanggar Cantrik Sibawek

Kegiatan belajar mengajar tidak hanya dilaksanakan di SD, kegiatan juga dilakukan di mess atau kontrakan yang diikuti oleh anak-anak dari Desa Gondol. Anak-anak sangat antusias untuk mengikuti kegiatan belajar. Saking antusiasnya anak-anak biasanya hadir 2 jam sebelum jadwal yang telah disepakati. Sempat terheran ketika memberikan soal matematika metode “gasing” (gampang asyik dan menyenangkan) dengan 3 kali contoh, anak-anak langsung bisa mengerjakan soal matematika tersebut, benar-benar suatu hal yang tidak terduga ketika banyak orang menganggap anak-anak di daerah adalah anak-anak yang tertinggal dalam hal akademik.Ini cerita singkatku selama di Kalimantan Barat.