Konflik dan Upaya Penanganannya (Workshop Resolusi Konflik 15-16 Maret 2013)

2Tanggal 15-16 Maret lalu Sanggar Cantrik Gloria kembali mengadakan workshop yang diikuti para fasilitator Sanggar Cantrik. Kegiatan workshop sendiri merupakan salah satu agenda rutin dalam program kerja manajemen Sanggar Cantrik. Tujuan workshop adalah untuk semakin memperlengkapi para fasilitator dalam menjalankan aktivitas di Sanggar Cantrik masing-masing sekolah.

Konflik seringkali menjadi penghalang bagi anak untuk bisa bertumbuh. Resolusi Konflik dipilih sebagai tema dalam workshop kali ini supaya fasilitator dapat mengelola konflik yang terjadi dalam aktivitas sanggar.  Hadir dalam workshop tersebut, Bapak Dodi Wibowo selaku peneliti dari PSKP (Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Secara lugas Bapak Dodi Wobowo membawakan serangkaian materi yang sangat bermanfaat bagi para fasilitator.

Mendengar Aktif, Mengelola Perbedaan dan Komunikasi Nirkekerasan menjadi tema yang dibawakan di setiap sessi. Dalam sessi Mendengar Aktif, dipaparkan mengenai beberapa teknik mendengar secara aktif yang pada hakekatnya bertujuan untuk mencari solusi dari suatu permasalahan. Mendengar aktif sendiri adalah suatu metode yang sebenarnya sangat diperlukan oleh semua orang, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan anak-anak, termasuk para fasilitator sanggar.

Seringkali para fasilitator mendapatkan beberapa masalah ketika aktivitas sanggar berlangsung, seperti menemui anak yang memendam permasalahan yang berat, anak yang lebih suka mengganggu temannya daripada melakukan aktifitas sanggar serta masalah lain yang seringkali muncul ketika sanggar berlangsung. Dengan kesabaran serta penggunaan metode yang tepat seperti metode  mendengar aktif, para fasilitator bisa memiliki kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan si anak. Mendengar aktif juga berarti pendengar (listener) yang mencerna dan memahami kondisi anak sehingga menumbuhkan rasa empati pada anak 

1Sessi berikutnya adalah sessi Mengelola Perbedaan. Dalam sessi ini, dijelaskan mengenai istilah Cross-out dan Clear-out. Secara sederhana Cross-Out merupakan suatu keadaan dalam masyarakat di mana masing-masing anggota kelompoknya memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan dalam beberapa hal (agama, pekerjaan, suku, pandangan politik). Sedang Clear-Out adalah suatu kondisi dimana masing-masing anggota masyarakat memiliki perbedaan yang cukup tajam (misal agama, pandangan politik dan suku) dan hanya ada sedikit persamaan (pekerjaan, tingkat ekonomi, hobi).

Dalam menjalankan aktivitas di sanggar, seringkali para fasilitator menemukan perbedaan yang cukup mencolok dari masing-masing anak. Dalam hal ini misal ada anak yang sangat pendiam, tapi ada pula anak yang sangat aktif. Ada anak yang  cepat menangkap instruksi, ada juga anak yang perlu waktu dalam memahami instruksi yang diberikan oleh fasilitator. Perbedaan itu harus dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk menumbuhkan semangat toleransi dan kerja sama, sehingga dapat terwujud sebuah kondisi harmonis di mana ketika kita berbeda, maka kita dapat saling memperkaya.

Sedang materi lainnya adalah mengenai Komunikasi Nirkekerasan. Adapun maksud dari komunikasi nirkekerasan sendiri adalah sebuah komunikasi dua arah yang penuh kasih. Diharapkan fasilitator dapat menerapkan komunikasi yang penuh kasih, baik kepada sesama fasilitator, pihak sekolah, terlebih kepada anak. Komunikasi nirkekerasan akan membuat anak nyaman, rileks dan pada akhirnya memancing mereka untuk terus bertumbuh sesuai dengan nilai-nilai kebaikan yang ingin ditanamkan.

 3

Workshop resolusi konflik diharapkan dapat menolong fasilitator dalam mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di sanggar maupun menolong fasilitator dalam mengimprovisasi materi dan aktivitas yang akan dilakukan di sanggar. Nantikan workshop selanjutnya, dengan materi yang pastinya juga akan sangat memperlengkapi para pejuang sanggar. Salam sanggar,