Kota Air Menumbuhkan Inspirasi dan Kreasi

Pengalaman bertemu dan berbagi hidup dengan anak-anak Indonesia adalah hal yang selalu istimewa. Apapun kondisinya, anak-anak selalu mengajarkan kepada kita tentang sukacita yang tidak pernah padam. Ini adalah sebuah kisah dari Agustina Fini Widya, seorang fasilitator Sanggar Cantrik yang menjadi sahabat bagi anak-anak di Kota Air, Kapuas, Kalimantan Tengah. Mari simak kisahnya.

Agustina Fini Widya dan anak-anak SD N 2 Selat Hulu

Senin, 14 Januari 2013 merupakan hari bersejarah dalam hidupku. Ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke suatu tempat untuk bekerja, tepatnya untuk mengajar anak-anak. Aku memang berasal dari Kalimantan, tetapi kegelisahan sempat menghampiri benakku ketika aku menginjakkan kaki di “Kota Air” Kuala Kapuas. berbagai pertanyaaan muncul di kepalaku, apakah guru-guru di tempat ini bisa diajak bekerjasama? Apakah anak-anak senang berkegiatan denganku? Apakah aku bisa tinggal di daerah rawa? Dan apakah teman satu timku bisa diajak bekerjasama?

Keraguanku terhadap kinerjaku semakin bertambah ketika hari pertama berkunjung ke SDN 01 Selat Hulu. Di sana aku dan tim mendapatkan sambutan yang biasa, bahkan terkesan acuh. Kejadian itu sempat membuat semangatku berkurang, tetapi aku meyakinkan kembali hatiku bahwa aku datang ke sini untuk melakukan tugas mulia, yaitu mengajar anak-anak. Aku tetap berpegang teguh pada tujuanku, yaitu membuat hari-hari yang dilalui anak-anak menjadi berwarna, meskipun berbagai halangan menghampiri.

Keraguanku seketika sirna ketika aku dan tim datang ke SDN 02 Selat Hulu. Di sana kami diterima dengan sangat antusias. Guru-guru bersikap ramah. Anak-anak terlihat sangat gembira menyambut kedatangan kami. Pengalaman di SDN 02 memacu semangatku untuk semakin percaya diri dalam melakukan kegiatan bersama anak-anak.

Seiring berjalannya waktu, banyak pengalaman yang kudapatkan. Interaksi dengan guru-guru semakin membaik. Kegiatan dengan anak-anak berjalan lancar, namun tentu saja tidak selancar yang Anda pikirkan. Aku mengalami kesulitan melaksanakan kegiatan di kelas 2 SDN 01 Selat Hulu. Hal itu dikarenakan, jumlah anak  yang banyak yaitu 43 orang dan seringkali mereka ribut di kelas pada saat berkegiatan. Aku sudah berusaha mengkondisikan anak-anak bahkan membuat peraturan dan menggunakan gerak tubuh untuk membuat kegiatan kondusif, tetapi kadang berhasil kadang tidak. Hal itu membuatku kecewa bahkan kadang membuatku marah, tetapi semua kekecewaan akan hilang dengan sangat cepat ketika anak-anak menunjukkan bahwa sebenarnya mereka ingin diberi perhatian lebih.

Dari sekian banyak pengalaman ada 2 kejadian yang menginspirasi dan menumbuhkan kreasi. Kejadian pertama yaitu ketika guru kelas 4 mengungkapkan bahwa anak-anak di SDN 02 Selat Hulu kurang mendapatkan perhatian di bidang seni bahkan anak-anak kurang mendapatkan pengetahuan tentang lagu-lagu nasional. Pernyataan guru tersebut memunculkan inspirasi dan kreasi dalam benakku untuk mengajarkan beberapa kesenian yang bermanfaat bagi anak-anak.  Aku dan tim mengusulkan untuk memberikan tambahan pelajaran piano dan gitar serta lagu-lagu nasional untuk anak-anak kelas 4 dan 5. Usulan kami mengenai pembelajaran kesenian ditanggapi dengan sangat baik oleh pihak kepala sekolah dan guru.  Mendengar persetujuan dari pihak guru-guru tentu saja aku sangat senang dan kegiatan kesenian pun berjalan lancar. Anak-anak sangat gembira ketika mereka bisa menampilkan seni bernyanyi, puisi, dan pantun pada acara memperingati Isra Mi’raj dan perpisahan kelas 6. Berbagai celotehan terdengar dari mulut mereka ketika selesai pertunjukkan. Ada yang berkata “tanganku dingin kak”, “mau tampil lagi kak”, “kak, aku keringatan saking gugup dan malu”. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka dan mengatakan bahwa suatu saat nanti kalau ada acara kalian harus berani tampil lagi.

Pengalaman ke 2 yaitu ketika terjadi kebakaran di depan barak kami. Seorang anak bernama Nurjanah tergopoh-gopoh menghampiri kami dengan baju seragam merah putih yang basah oleh keringat. Terbata-bata dia mengutarakan bahwa dia dan teman-temanya di kelas 3 SDN 01 Selat Hulu sangat mengkhawatirkan kami. Dia berkata bahwa guru kelasnya memberikan informasi bahwa barak kami yang terbakar, tetapi dia lega karena ternyata kediaman kami aman. Kejadian itu mengusik hatiku, betapa anak-anak menyayangi kami dan perhatian dengan keadaan yang menimpa kami. Seorang anak SD bernama Nurjanah telah menunjukkan perhatian yang sangat besar. Sikap memberi perhatian jika terus dipupuk akan mengumbuhkan karakter menyayangi dan toleransi yang sangat baik.

Pengalaman hampir 6 bulan berkegiatan dengan anak-anak dan guru-guru di Kota Kuala Kapuas menumbuhkan inspirasi dan kreasi yang sangat dalam. Aku semakin mendapatkan kreasi jenis-jenis kegiatan baru bersama anak-anak yang bisa diaplikasikan di tempat lain.