Mari berkenalan dengan fasilitator yang satu ini….

Bu Kristin (No. 1 dari kiri) bersama anak-anak

Kita akan mengenal lebih dekat seorang fasilitator yang berdomisili di dusun Pingitan, kecamatan Moyudan, Sleman. Beliau adalah Bu Kristina, akrab disapa Bu Kristin. Sejak tahun 2009 beliau sudah bergabung menjadi fasilitator Sanggar Cantrik. Awal mulanya, beliau adalah penanggungjawab beasiswa Sahabat Siswa (Salah satu departemen di Yayasan Sahabat Gloria) untuk anak-anak di sekitar lingkungan rumahnya. Beliau sering mengadakan semacam acara gathering seminggu sekali khusus untuk anak-anak beasiswa . Pertemuan tersebut menjadi momen yang tepat bagi Bu Kristin untuk mengikuti perkembangan anak-anak beasiswa. Pertemuan biasanya dikemas dalam bentuk ngobrol atau belajar bersama. Rutinitas itu “ditangkap” oleh Bp. Wiji Suprayogi, Pimpinan Umum Persekutuan Sahabat Gloria (sekarang Yayasan Sahabat Gloria) dan merekomendasikan untuk mewadahi anak-anak beasiswa tersebut dalam sanggar anak. Pada perkembangannya, sanggar anak berbasis komunitas yang rutin dilakukan di rumah Bu Kristin ini terbuka dan diikuti oleh anak-anak non beasiswa yang ada di sekitar rumah beliau. Bu Kristin mengisahkan perjuangan beliau untuk mensosialisasikan sanggar kepada orangtua anak bukan hal yang mudah dan instan. Banyak orangtua yang masih memberikan lampu kuning bahkan merah bagi anaknya yang ingin mengikuti sanggar. Hal ini karena latar belakang Bu Kristin sebagai aktivis gereja yang sering melayani umat, sehingga dikhawatirkan materi dan muatan sanggar akan didominasi ‘nilai tertentu’. Sosialisasi terus dilakukan. Sanggar pun tetap berjalan berapapun jumlah anak yang datang dan terlibat. Seiring berjalannya waktu, anak-anak yang mengikuti sanggar merasa senang dan mendapatkan banyak manfaat positif. Usai bersanggar, anak-anak pun kerap bercerita kepada orangtuanya tentang kegiatan sanggar yang baru saja diikuti. Mereka juga sering mengajak anak-anak lain yang belum ikut sanggar untuk bergabung. Perlahan namun pasti, jumlah anak yang mengikuti sanggar pun bertambah dan mendapat dukungan orangtua sepenuhnya. Bu Kristin memaknai proses ini sebagai sesuatu yang wajar, dimana setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya  Sehinggadibutuhkan pendekatan dan  komunikasi dengan orangtua mengenai visi Sanggar Cantrik. Tak kenal maka tak sayang. Ketika orangtua dan anak sudah mengenal sanggar, maka dukungan terhadap kegiatan sanggar pun akan mengalir dengan sendirinya. Saat ini sanggar komunitas Pingitan melayani 30 anak.

Selain mengampu di sanggar komunitas Pingitan, Bu Kristin juga mengampu di sanggar berbasis sekolah yaitu SD Bopkri Minggir. Beliau menyatakan bahwa menjadi fasilitator dan berproses dengan anak-anak merupakan panggilan hati. Berinteraksi dengan bermacam-macam anak, mulai dari anak yang polos, anak yang pendiam dan pemalu, anak yang tenang, anak yang aktif, sampai anak yang sangat dinamis dan senang bergerak atau berteriak – membawa pengalaman tersendiri bagi beliau.

Setiap kali ada perasaan lelah dalam menghadapi anak yang membutuhkan penanganan khusus, selalu dibungkus dalam sukacita. Berposes bersama anak memang memerlukan kesabaran dan empati yang dalam. Bu Kristin berharap, anak-anak sanggar ini ke depannya akan menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, namun yang tidak kalah penting adalah generasi yang berkarakter dan berintegritas.