Mengenal Lebih Dekat Fasilitator Sanggar Cantrik

Untuk menjalankan aktivitas Sanggar Cantrik diperlukan keterlibatan dari banyak pihak, salah satunya adalah fasilitator yang merupakan ujung tombak berlangsungnya sanggar baik di sekolah maupun di komunitas. Fasilitator  Sanggar Cantrik sebagian besar masih berstatus mahasiswa. Di tengah kesibukan dan tuntutan study yang begitu banyak, ada orang-orang yang mau menyediakan waktu untuk mengajar sanggar. Mari kita mengenal lebih dekat beberapa dari mereka.

IMG_0016

Rina, fasilitator SD BOPKRI Turen dan Pranti 1

Seorang mahasiswa UNY, bernama Rina Fransiska ini telah terlibat dalam kegiatan sanggar selama 1,5 tahun. Tidak cukup mengajar di satu sanggar, gadis kelahiran Ngabang 8 Juni 1991 ini mengajar di SD BOPKRI Turen dan SD BOPKRI Pranti 1 Bantul. Kecintaannya terhadap anak-anak serta keinginannya untuk mendapatkan pengalaman yang lebih membuatnya memutuskan menjadi fasilitator di tengah kesibukannya. Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa yang sedang menunggu wisuda Agustus mendatang ini pernah mengalami duka ketika mengajar sanggar ketika pertama kali mengajar tidak dihiraukan oleh anak-anak. Pengalaman paling menarik yang pernah dilaluinya selama menjadi fasilitator ketika Rina bersama anak-anak sanggar berkelilling kampung di sekitar SD BOPKRI Turen dengan sepeda. Menjadi fasilitator sanggar semakin melatih kesabaran, membuatnya belajar menjadi sahabat yang baik bagi anak, serta meningkatkan ketrampilannya berbicara di depan umum. Rina berharap pendidikan karakter di Indonesia lebih maju sehingga pendidikan Indonesia semakin mencerdaskan. 

IMG_0017

Dani Putra Apriyanto

Selain Rina, ada fasilitator lain yang juga berbagi pengalamannya. Mahasiswa yang akrab disapa Dani ini, awal bergabung di Sanggar Cantrik karena ajakan teman. Lama kelamaan setelah mengenal  Sanggar Cantrik, Dani merasa sangat tertarik karena merasa memiliki peran terhadap pendidikan Indonesia. Fasilitator SD BOPKRI Sidomulyo 2 ini merasa sangat senang ketika bisa bertemu anak-anak setiap kegiatan sanggar, bisa berbagi dan belajar bersama anak-anak maupun fasilitator. Kekompakan dan keakraban dengan sesama fasilitator SD BOPKRI Sidomulyo 2 membuatnya mereka sudah seperti saudara. Selama 3 tahun mengajar di sanggar, kadang merasa sedih ketika anak-anak berbicara ngawur sehingga menyakiti hatinya. Selain itu, saat ada fasilitator yang pindah atau berhenti mengajar ternyata menimbulkan kesedihan bagi mahasiswa kelahiran Salatiga, 8 April 1989 ini. Selama menjadi fasilitator, Dani lebih belajar bersabar dan lebih memeiliki pengetahuan tentang anak-anak. Dani berharap anak-anak lebih diberi ruang untuk berekspresi dan bereksplorasi karena pendidikan Indonesia masih konservatif, Dani juga berharap guru lebih bisa memahami dunia anak untuk mendukung pertumbuhan anak seutuhnya.

IMG_0022

Arya Andika, 3.5 tahun bersama Sanggar Cantrik

Tidak hanya Rina dan Dani, ada juga fasilitator lain yang mengajar di sanggar komunitas. Mahasiswa yang bernama Arya Andika ini telah berkecimpung di sanggar selama 3,5 tahun. Sanggar SD BOPKRI Kalinongko pernah menjadi tempatnya berbagi dengan anak-anak sebelum mengajar di sanggar komunitas Kaliwinongo dan sanggar SD BOPKRI Sidomulyo 2. Awalnya karena ingin mendapatkan tambahan uang saku dan  ditawari saudara, setelah mengetahui visi Sanggar Cantrik menjadi termotivasi untuk mencapai visi tersebut dengan menjadi fasilitator. Mahasiswa tingkat akhir di Statistika UGM ini, sangat menikmati ketika bisa bertemu dan bermain dengan anak-anak di sanggar. Sebagai koordinator sanggar Kaliwinongo dan SD BOPKRI Sidomulyo 2, Arya merasa sedih kalau teman-teman fasilitator tidak bisa mengajar sanggar. Selain merasa kesejahteraannya meningkat setelah menjadi fasilitator, Arya bersyukur karena mendapat banyak pelatihan, pengalaman, peningkatan skill serta teman-teman baru melalui Sanggar Cantrik. Arya yang lahir pada 05 November 1987 ini berharap pendidikan Indonesia lebih memberi kesempatan pada anak untuk bisa mengembangkan potensinya.