Peduli Anak=Peduli Masa Depan

Anak ibarat sebuah benih yang memiliki segenap potensi untuk distimulus, digali, diasah, dikembangkan, serta diberdayakan pada tempat dan dengan cara yang sehat dan tepat sehingga nantinya dapat bertumbuh dan berbuah optimal. Dalam proses perkembangannya, anak membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat mengembangkan setiap aspek potensinya. Oleh karena itu, orang lain (dalam hal ini orang dewasa) memiliki peran dan tanggungjawab yang sangat penting dalam membantu proses tumbuh kembang anak tersebut.

Lingkungan yang mendukung bagi tercapainya perkembangan anak adalah lingkungan yang menempatkan anak sebagai subyek dari setiap proses kegiatan, dimana anak memiliki dan mampu mengakses ruang gerak untuk bisa menyalurkan dan mengaktualisasikan hak-haknya. Salah satu event di Indonesia yang didedikasikan untuk menghormati eksistensi dan potensi setiap anak adalah Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang disahkan pada tanggal 19 Juli 1984. Setiap negara memiliki tanggal yang berbeda-beda dalam merayakan hari anak tersebut sesuai dengan catatan historisnya. Hari Anak Nasional sendiri digagas sebagai ruang apresiasi bagi anak serta menjadi sarana untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan anak.

Hendaknya Hari Anak Nasional tidak menjadi peringatan simbolisasi dan seremonial semata yang dirayakan secara rutin setiap tahun, tetapi justru merupakan momentum penting bagi bangsa ini (baik pemerintah maupun elemen masyarakat yang concern terhadap perkembangan anak) untuk saling berefleksi dan evaluasi mengenai pemenuhan kesejahteraan setiap anak di negeri ini.

Kalau kita mau melihat lebih dalam dan jujur, sampai saat ini masih banyak kepentingan anak yang terabaikan, salah satunya sisi kesempatan untuk mengenyam pendidikan dan mendapatkan perlindungan. Sebagai contoh masih banyak anak di negeri ini yang (terpaksa) mencari nafkah di jalanan atau menjadi buruh – tanggungjawab yang belum seharusnya diemban oleh anak-anak, serta ketidakberdayaan mereka mengenyam bangku sekolah. Di sisi lain, ada pula anak-anak negeri ini yang ‘beruntung’ bisa mengakses lingkungan bertumbuh yang mendukung sehingga mampu mengoptimalkan segenap aspek kemampuan mereka (baik dalam hal pengetahuan maupun karakter) untuk berprestasi dan siap menjadi generasi penerus bangsa. Hal ini menunjukkan ketimpangan dan ketidakmerataan negara (dan kita tentunya) dalam mengcover dan menjamin pemenuhan hak dan kesejahteraan anak di negeri ini. Dalam hal ini, negara (dan elemen masyarakat tentunya) bertanggungjawab untuk memenuhi 31 macam hak anak yang dikelompokkan menjadi 5 macam, yakni: (1) Hak sipil dan kebebasan, (2) Hak mendapatkan lingkungan keluarga dan pemeliharaan alternatif, (3) Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan kesejahteraan dasar, (4) Hak memperoleh pendidikan, dan (5) Hak mendapatkan perlindungan khusus. Belum terpenuhinya hak-hak anak secara merata, menjadi ketimpangan dan keprihatinan sosial bagi kita bersama.

Kepedulian kita terhadap perkembangan dan kesejahteraan anak-anak tidak terpisahkan dari kepedulian kita kepada negeri ini secara keseluruhan. Kesuksesan kita sebagai sebuah bangsa tidak terlepas dari seberapa sukses kita menyiapkan anak-anak kita sebagai pilar generasi penerus yang diharapkan mampu membawa negeri ini ke tingkat yang lebih baik. Setiap anak berpotensi menjadi agen perubahan positif selama mereka memiliki ruang untuk mengaktualisasikan hak-haknyaseperti kesempatan bersuara atau menyampaikan aspirasinya. Tentunya ini menjadi ‘PR’ bagi kita bersama, mulai dari lingkup terkecil dimana kita tinggal dan berkarya untuk memberikan kontribusi sederhana dalam berinteraksi, memberdayakan dan mengapresiasi anak-anak. Kontribusi sederhana yang kita berikan akan berdampak positif dan besar bagi perkembangan anak sebagai generasi penerus bangsa. Sosok kisah-kisah inspiratif dari anak-anak Bangsa Indonesia (baik yang berjuang untuk bertahan dalam keterbatasannya maupun yang berjuang untuk berprestasi) kiranya dapat menjadi pelajaran berharga bahwa sejatinya anak-anak tersebut dapat menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.

Salam perubahan ^^

-Naz-